Warga Wotgalih Lumajang, Sulap Eks Tambang Pasir Jadi Wisata

Lumajang, NOLAR.id – Debur ombak bersama desiran pasir pun hembusan angin laut menemani aktivitas masyarakat di kawasan pesisir pantai selatan Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Mereka menikmati suasana kedamaian dan ketenangan tanpa lagi terganggu suara ekskavator mengeruk pasir hitam serta lalu lalang truk seperti delapan tahun silam.

Sebagaimana saat hadirnya seorang pengunjung asal Bali bernama Niko, Senin, 7 Desember 2020. Sore itu, ia datang jauh-jauh dari Bali untuk menantang ombak Pantai Mbah Drajid Wotgalih. Pria berkebangsaan Turki ini penasaran akan kabar ombak Mbah Drajid sangat menantang adrenalin para peselancar.

Ads

Makanya, dia pun tidak basa-basi dan lansung menenteng papan selancarnya menuju lautan. Selama 30 menit, Niko terlihat kesusahan menaklukkan ombak. Tak lama untuk beradaptasi, dia pun bisa mengikuti ombak yang bergulung-gulung. Tubuhnya meliuk bak penari yang mengikuti irama ombak pantai di pantai Mbah Drajid Wotgalih.

“Pantai Wotgalih bagus dan saya suka. Saya datang ke sini untuk berselancar dan saya puas. Mungkin, saya akan kembali kesini lain waktu untuk mencoba lagi,” ujarnya usai berselancar.

Kedatangan Niko ini pun menjadi tontonan para pengunjung pantai Mbah Drajid Wotgalih. Baik masyarakat sekitar maupun dari luar daerah. Mereka terlihat datang bersama teman, pasangan hingga keluarganya untuk menonton aksinya berselancar.

Pantai Mbah Drajid Wotgalih menjadi destinasi wisata sejak pertambangan pasir besi berhenti total tahun 2012 silam. Sejumlah warung berbahan bambu berderet di bangun dengan menawarkan beragam menu makanan dan minuman. Sedangkan pengunjung cukup membayar Rp 5 ribu sebagai retribusi pengembangan kawasan wisata.

Salah seorang pedagang bernama Burhan mengatakan beberapa hari ini kunjungan memang sepi. Dia mengatakan pengunjung ramai saat hari libur akhir pekan atau libur nasional. Saat sepi, dia hanya berjualan sejak siang hingga sore hari.

“Seringnya jualan ketika Sabtu dan Minggu saja. Karena ramai. Kalau hari-hari jarang, karena sepi. Kalaupun jualan, cuma warga sekitar yang mancing dan beberapa orang pengunjung yang beli,” ucapnya.

Namun, ia sangat bersyukur dengan berjualan makanan di Pantai Mbah Drajid Wotgalih turut meningkatkan perekonomian keluarganya. Setiap hari, ia bisa mengantongi laba antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta saat ramai pengunjung dan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu ketika sepi.

”Sebelum disini, dulu jualannya di rumah. Hasilnya ya begitu. Alhamdulillah, sekarang sedikit banyak perekonomian terbantu. Makanya, saya sudah fokus di sini saja,” tutur Burhan sambil tersenyum.

Dia menerangkan Pantai Mbah Drajid Wotgalih sendiri awalnya merupakan tempat wisata tahunan. Kala itu, masyarakat memanfaatkan momen Hari Raya Idul Fitri untuk berbondong-bondong berkunjung ke pantai yang berjarak 24 kilo meter dari Alun-alun Lumajang ini.

Baca Juga : Gotong Posko Ramai-Ramai, Warga Paseban Tolak Tambang

Seiring berjalannya waktu, dia mengatakan kunjungan semakin ramai setiap hari sejak beberapa fasilitas seperti spot foto, kamar mandi hingga warung-warung dibangun oleh pemerintah desa. Namun, dia mengaku lupa penataan dilakukan sejak kapan.

“Pak Lestari (Kepala Desa Wotgalih) dulu yang mengumpulkan beberapa warga dan menanyakan apakah ada yang bersedia berjualan di sini. Sekitar dua tahun lalu. Nah, salah satunya yang mau saya sama istri ini waktu itu,” ungkapnya.

Beberapa tahun berjalan, dia mengaku baru berjualan setiap hari setelah ramai oleh pengunjung beberapa bulan lalu. Akan tetapi, pengunjung sepi kembali setelah pandemi Covid-19 menyebar ke Indonesia.

“Sekarang sudah jarang, karena sepi lagi itu. Ya, gara-gara corona ini,” ucapnya sambil tertawa.

Menurut salah satu pengelola Pantai Wisata Mbah Drajid Wotgalih, Usman Wahyudi menjelaskan bahwa penataan Pantai Mbah Drajid Wotgalih dilakukan pada tahun 2015 di era Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar. Kala itu, pemerintah meminta satu kecamatan minimal ada satu desa wisata.

Semenjak itulah mulai dilakukan pengembangan dan penataan salah satu kawasan pesisir selatan Jawa ini yang sekaligus dibentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pansela Desa Wotgalih. Melalui kelompok itu, dia bersama rekan-rekannya mulai membenahi satu persatu dan sedikit demi sedikit menambahkan fasilitas agar masyarakat nyaman berkunjung ke pantai.

“Pokdarwis Pansela Desa Wotgalih inilah yang bertugas mengelola kawasan pantai ini. Biayanya menggunakan uang hasil retribusi dari para pengunjung itu. Jadi, dari masyarakat untuk masyarakat lagi. Kan sama-sama bermanfaat,” kata Usman saat ditemui di lokasi, Selasa, 8 Desember 2020.

Seiring waktu, dia mengatakan Pantai Mbah Drajid Wotgalih mulai dilirik oleh masyarakat luas sebagai jujukan wisata pantai usai dikenalkan ke khalayak publik oleh Pokdarwis. Sampai saat ini, dia menyebutkan rata-rata pengunjung dalam setiap hari bisa mencapai 200 hingga 250 orang di hari-hari biasa dan 500 hingga 1000 orang ketika hari libur.

“Alhamdulillah, sudah banyak pengunjung yang berdatangan ke Pantai Mbah Drajid Wotgalih ini. Sehingga, dengan otomatis, tentunya juga akan berefek pada perekonomian masyarakat setempat yang membuka warung-warung di pantai ini,” ujarnya.

Setiap Hari Raya Idul Fitri, masyarakat setempat berziarah ke pesarean atau makam leluhur babat alas Desa Wotgalih, Mbah Drajid. Peziarah terdiri atas warga sekitar maupun warga luar kota. ”Usai nyekar inilah, mereka berkunjung ke pantai. Mereka datang ya tanpa disuruh dan diundang. Inisiatif warga saja,” ceritanya.

Melihat itu, pemerintah desa pun berinisiatif menarik retribusi kepada setiap pengunjung. Dengan catatan hasilnya masuk ke kas desa serta untuk membantu pembangunan masjid serta pesantren di Desa Wotgalih.

“Penarikan retribusi berlaku saat momen itu saja. Setelah itu, gak ada,” kata pria yang juga anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Desa Wotgalih ini.

Dulu, kata Usman, masyarakat menyebut Pantai Wotgalih saja. Sebagian masyarakat yang berlatar belakang dari etnis Madura menyebut kawasan pesisir selatan Jawa dengan nama tasek atau laut Mbah Drajid. Lantas pesisir pantai selatan lebih dikenal dengan sebutan Pantai Mbah Drajid Wotgalih sejak dikelola Pokdarwis Pansela.

Sebutan pantai Mbah Drajid Wotgalih untuk mengingat leluhur babat alas Desa Wotgalih, Pangeran Indrajid dan Pangeran Trunojoyo. Keduanya merupakan keturunan Kerajaan Mataram Islam.

“Ramainya pengunjung pantai karena peziarah yang nyekar ke pesarean beliau (Pangeran Indrajid dan Pangeran Trunojoyo). Sehingga, sebutan Pantai Mbah Drajid Wotgalih untuk mengenang dan mengingatkan jasa beliau,” tuturnya.

Sampai saat ini, kehadiran Pantai Mbah Drajid Wotgalih menambah destinasi wisata di Kabupaten Malang. Pantai yang menawarkan keindahan alam sore ini berjarak 2,1 kilometer (km) dari Balai Desa Wotgalih dan 24 kilo meter dari Alun-alun Lumajang.

Ads
Share on email
Email
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

DPC Demokrat Datangi KPU Lumajang

Lumajang, NOLAR.id – DPC (Dewan Pengurus Cabang) Partai Demokrat Kabupaten Lumajang kunjungi Kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Lumajang, Raabu (24/03/2021). Rombongan Partai Demokrat dimotori oleh Idris Marzuqi selaku Plt. Sekretaris DPC, dan diikuti oleh beberapa Anggota DPRD Fraksi Demokrat Reza Pradana, Sujiarti, dan Awaluddin Yusuf, serta pengurus DPC yang lainya. Kunjungan tersebut diterima langsung

Kunjungi Pelajar Asal Indonesia Timur, Kapolres Lumajang Ajak Patuhi Prokes dan Pupuk Jiwa Nasionalisme

Lumajang, NOLAR.id – Kapolres Lumajang AKBP Eka Yekti Hananto Seno, S.I.K., M.Si melakukan kunjungan ke LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) Regina Pacis yang berada di Desa Kedungrejo, Jum’at (12/03/2021). LKSA Regina Prancis merupakan menjadi tempat bagi beberapa pelajar yang berasal dari Papua, Merauke, dan NTT. Kapolres Lumajang, dalam kunjungannya menyampaikan pesan agar tetap mematuhi Protokol

Lumajang Dilanda Banjir, Bupati : Masyarakat Harap Waspada

Lumajang, NOLAR.id – Curah hujan tinggi yang terjadi di wilayah Kabupaten Lumajang mengakibatkan beberapa area terendam banjir, Sabtu (27/02/2021) malam. Area yang mengalami banjir diantaranya adalah wilayah Kecamatan Lumajang tepatnya di Kelurahan Jogoyudan, Kecamatan Sukodono tepatnya di Desa Kutorenon, hingga Perumahan Wonorejo dan masih terdapat area lain dengan situasi yang sama. Banjir yang terjadi rata-rata

Ning Farin Kunjungi Warga Penderita Kanker Payudara

Lumajang, NOLAR.id – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Lumajang, Musfarinah Thoriq berkunjung ke salah satu warga Desa Pandansari, Kecamatan Senduro yang menderita penyakit kanker payudara, Senin (11/01/2021). Dalam kesempatan tersebut, Ning Farin sapaan akrabnya, memberikan semangat kepada wanita berusia lanjut tersebut yang sudah menderita penyakit kanker payudara sejak beberapa waktu yang lalu. “Tak usa

Lumajang Terima Bantuan Masker dari Aice Group

Lumajang, NOLAR.id – Melalui kerjasama Aice Group, Kantor Staff Presdien (KSP), dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor distribusikan 150.000 Masker Medis Shield untuk wilayah Kabupaten Lumajang. Kegiatan diawali dengan seremoni distribusi yang dilakukan di Pendopo Kabupaten Lumajang, Selasa (22/12/2020) siang. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari progam pendistribusian 5 Juta masker yang akan dibagikan di 20 Kabupaten/Kota

Tragedi Selat Bali, KMP Yunice Tenggelam

Jembrana, nolarindo.com – Berita duka datang dari Selat Bali tepatnya di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana pada Senin (29/06/2021) malam. Musibah pelayaran terjadi

Scroll to Top